Kamis, 04 Juni 2015

RUKUN AGAMA ISLAM

RUKUN AGAMA ISLAM ﴿
Agama Islam adalah agama yang kokoh (al-din al-qayyim, QS. Al-Rum: 30), karena memiliki tiga rukun. Rukun-rukun dalam agama Islam merupakan sumber utama ajaran Islam. Ketiga rukun agama tersebut adalah: iman, islam dan ihsan. Ketiga rukun agama ini bersumber dari hadis Nabi Saw, yang masyhur yang disampaikan oleh Umar bin Khattab, dan riwayat oleh 12 imam hadits.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ...» ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ، وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» ... قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ»
Dalam hadis tersebut Nabi Saw menjawab pertanyaan Jibril As, “Apa yang dimaksud dengan Iman”? Nabi Saw, menjawab: “Hendaknya engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, kepada hari Akhir dan kepada qadla dan qadarnya, yang baik dan yang buruknya. Jibril As, bertanya lagi “Apa yang dimaksud dengan Islam?”, Nabi Saw menjawab: Engkau harus bersyahadat bahwa tidak ada sembahan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakan shalat, menunaikan zakat, dan mengunjung baitullah apabila engkau mampu menjalankannya”. Jibril As, bertanya lagi “Apa ihsan dalam Islam?”, Nabi Saw, menjawab: “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat kepada-Nya, maka jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu”.






 



















Pada zaman Nabi Saw ketiga rukun agama yang menjadi sumber Islam disampaikan dan diajarkan oleh Nabi Saw, kepada sahabat secara praktis, dan terpadu, meskipun tidak tersusun secara sistematis. Dikarenakan wahyu Al-Qur`an yang menjadi rujukan utama dan pertama ketiga ilmu tersebut diturunkan tidak sistematis seperti susunan ayat per ayat dalam mushaf Al-Qur`an saat ini. Setelah generasi sahabat, ketiga sumber ajaran Islam tersebut diformulasikan secara sistematis oleh para ulama, untuk memudahkan bagi umat dalam mempelajarinya. Maka dari nilai-nilai keimanan lahirlah ilmu aqidah, dari nilai-nilai keislaman lahirlah ilmu fiqih, dan dari nilai-nilai keihsanan lahirlah ilmu tasawuf.
أَمَّا تَارِيْخُ التَّصَوُّفِ فَيَظْهَرُ فِي فَتْوًى لِلْإِمَامِ الْـحَافِظِ السَّيِّدِ مُـحَمَّدْ صَدِيْق الْغَمَارِيّ رَحِمَهُ اللهُ فَقَدْ سُئِلَ عَنْ أَوَّلِ مَنْ أَسَّسَ التَّصَوُّفَ؟ وَهَلْ هُوَ بِوَحْيٍ سَـمَاوِيٍّ؟
فَأَجَابَ: (أَمَّا أَوَّلُ مَنْ أَسَّسَ الطَّرِيْقَةَ فَلْتَعْلَمْ أَنَّ الطَّرِيْقَةَ أَسَسُهَا الْوَحْيُ السَّمَاوِيُّ فِي جُمْلَةٍ مَا أُسِّسَ مِنَ الدِّيْنِ الْمُحَمَّدِيِّ, إِذْ هِيَ بِلاَ شَكٍّ مَقَامُ الْإِحْسَانِ الَّذِي هُوَ أَحَدُ أَرْكَانِ الدِّيْنِ الثَّلاَثَةِ الَّتِـي جَعَلَهَا النَّبِـيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ مَا بَيَّنَهَا وَاحِدًا وَاحِدًا دِيْنًا بِقَوْلِهِ: (هٰذَا جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ)([1][19]). وَهُوَ الْإِسْلاَمُ وَالْإِيْـمَانُ وَالْإِحْسَانُ فَالْإِسْلاَمُ طَاعَةٌ وَعِبَادَةٌ وَالْإِيْـمَانُ نُوْرٌ وَعَقِيْدَةٌ وَالْإِحْسَانُ مَقَامُ مُرَاقَبَةٍ وَمُشَاهَدَةٍ ( أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَـمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ... ).
Adapun historis ilmu tasawuf, maka akan terlihat pada fatwanya Al-Imam, Al-Hafidz, Al-Sayyid Muhammad Shadiq Al-Ghamariy rahimahullah. Beliau pernah ditanya mengenai orang yang mengasas ilmu tasawuf? Apakah ia berdasarkan wahyu samawiy?. Maka beliau menjawab: “Adapun yang pertama mengasas thariqah (dalam tasawuf)[2], maka ketahuilah olehmu bahwasanya thariqah diasas oleh wahyu samawiy sebanyak wahyu yang mengasas agama Nabi Saw. Karena thariqah, tidak diragukan lagi adalah maqam ihsan, yang termasuk salah satu rukun agama yang tiga. (disebut sebagai rukun agama) karena ketika Nabi telah menjelaskan satu persatu (pertanyaan Jibril As), Nabi Saw menjadikan ketiga rukun tadi sebagai agama (yang utuh), dengan sabdanya: “Ini adalah Jibril, datang menemui kalian untuk mengajarkan kalian agama kalian, yaitu islam, iman dan ihsan. Maka islam adalah ketaatan dan ibadah, iman adalah cahaya dan ‘aqidah, sedangkan ihsan adalah maqam muraqabah dan musyahadah. Nabi Saw bersabda: “Hendaknya engkau beribadah seakan-akan engkau melihat kepada-Nya, maka jika engkau tidak (dapat) melihat-Nya maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu”.
ثُـمَّ قَالَ السَّيِّدُ مُـحَمَّد صَدِيْق الْغَمَارِيُّ فِي رِسَالَتِهِ تِلْكَ : فَإِنَّهُ كَمَا فِي الْـحَدِيْثِ الدِّيْنُ عِبَارَةٌ عَنِ الْأَرْكَانِ الثَّلاَثَةِ فَمَنْ أَخَلَّ بِـهٰـذَا الْمَقَامِ (الإِحْسَانِ) فَدِيْنُهُ نَاقِصٌ بِلاَ شَكٍّ لِتَرْكِهِ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِهِ فَغَايَةُ مَا تَدْعُوْ اِلَيْهِ الطَّرِيْقَةُ وَتُشِيْرُ اِلَيْهِ هُوَ مَقَامُ الْإِحْسَانِ بَعْدَ تَصْحِيْحِ الْإِسْلاَمِ وَالْإِيْـمَانِ([3][20]).
“Kemudian berkata Al-Sayyid Muhammad Shadiq Al-Ghamariy dalam risalahnya: “Demikian itu, bahwasanya sebagaimana dalam hadis, agama adalah ‘ibarat dari rukun-rukun yang tiga. Maka barangsiapa yang meninggalkan maqam ihsan ini (tasawuf), maka agamanya berkurang (tidak sempurna), tanpa diragukan lagi karena ia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukun agama. Maka puncak dari apa yang diseru dan diisyaratkan oleh thariqah adalah maqam ihsan setelah benar islam dan imannya”. (al-intishar li thariqi al-shufiyyah, hlm. 6, lihat: al-mausu’ah al-Yusufiyah fi bayani adillati al-shufiyyah, hlm. 16).

A.        Lahirnya Tasawuf (dari amaliyah ke konsep dan istilah)
Ilmu tasawuf adalah bagian dari syariat Islam selain aqidah dan fiqih. Syariat adalah keseluruhan ajaran Islam, sebagaimana diinformasikan dalam QS. Al-Syura: 13.
وَقَالَ ابْنُ خَلْدُوْن فِي مُقَدِّمَتِهِ:
(وَهٰذَا الْعِلْمُ – يَعْنِي التَّصَوُّفَ – مِنَ الْعُلُوْمِ الشَّرْعِيَّةِ الْـحَادِثَةِ فِي الْمِلَّةِ، وَأَصْلُهُ أَنَّ طَرِيْقَةَ هٰؤُلاَءِ الْقَوْمِ لَـمْ تَزَلْ عَنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وِكِبَارِهَا مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ طَرِيْقَة الْـحَقِّ وَالْهِدَايَةِ وَأَصْلُهَا الْعُكُوْفُ عَلَى الْعِبَادَةِ وَالْاِنْقِطَاعُ إِلىَ اللهِ تَعَالَى ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ زُخْرُفِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتِهَا، وَالزُّهْدُ فيِ مَا يُقْبِلُ عَلَيْهِ الْـجُمْهُوْرُ مِنْ لَذَّةِ مَالٍ وَجَاهٍ وَالْاِنْفِرَادُ عَنِ الْـخَلْقِ وَالْـخَلْوَةُ لِلْعِبَادَةِ وَكَانَ ذٰلِكَ عَامًّا فِي الصَّحَابَةِ وَالسَّلَفِ: فَلَمَّا فَشَا الْإِقْبَالُ عَلَى الدُّنْيَا فِي الْقَرْنِ الثَّانِي وَمَا بَعْدَهُ وَجَنَحَ النَّاسُ إِلَى مُـخَالَطَةِ الدُّنْيَا اخْتَصَّ الْمُقْبِلُوْنَ عَلَى الْعِبَادَةِ بِاسْمِ الصُّوْفِيَةِ وَالْمُتَصَوِّفَةِ)([4][21]).
Berkata Ibnu Khaldun dalam muqadimahnya: “Ilmu ini (tasawuf) adalah bagian dari ilmu-ilmu syari’at yang baru (namanya) dalam agama. Intinya bahwa thariqah kaum ini (shufiyah), menurut generasi salaf dan pembesar mereka dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka terus menerus sebagai thariqah yang haq dan mendapat petunjuk. Asal mulanya (tasawuf) adalah menetapi ibadah, dan mempergunakan seluruh waktunya kepada Allah SWT, berpaling dari ornament duniawi dan keindahannya, zuhud dalam apa yang dituju oleh mayoritas manusia berupa kelezatan harta dan kemegahan, serta menyendiri dari makhluk dan khalwat untuk ibadah.[5] Kebiasaan ini adalah biasa pada masa sahabat dan salaf: maka ketika merajalela sikap cinta dunia pada abad ke 2 H dan kurun sesudahnya dan manusia (muslimin) telah condong untuk menggauli dunia, maka dikhususkanlah orang-orang yang menghadap kepada ibadah dengan nama shufiyah dan mutashawifah”. (Ibn Khaldun ilmu tashawuf, hlm. 329, lihat al-mausu’ah al-yusufiyah, hlm. 17).
وَيَعْنِيْنَا مِنْ عِبَارَةِ ابْنِ خَلْدُوْن الْفَقْرَةِ الْأَخِيْرَةِ الَّتِـي يُقَرَّرُ فِيْهَا أَنَّ ظُهُوْرَ التَّصَوُّفِ وَالصُّوْفِيَةِ كَانَ نَتِيْجَةَ جُنُوْحِ النَّاسِ إِلَى مُـخَالَطَةِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا فِي الْقَرْنِ الثَّانِي لِلْهِجْرَةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ يَدْعُوْ أَنْ يَتَّخِذَ الْمُقْبِلُوْنَ عَلَى الْعِبَادَةِ اسْمًا يُـمَيِّزُهُمْ عَنْ عَامَةِ النَّاسِ الَّذِيْنَ أَلْـهَتْهُمُ الْـحَيَاةُ الدُّنْيَا الْفَانِيَةُ.
“Ia menunjukan kepada kita dari penjelasan Ibnu Khaldun pada paragraph yang akhir yang ia tandaskan bahwa munculnya (istilah) tasawuf dan shufiyah adalah hasil dari kecenderungan manusia kepada dunia dan ahli dunia pada abad ke 2 H. Maka kondisi tersebut menghendaki adanya penamaan (shufiyah) bagi yang senantiasa menghadap kepada ibadah, yaitu nama yang dapat membedakan mereka dari kebanyakan manusia yang telah dilalaikan oleh kehidupan dunia yang fana”.
Sebagai pembuktian bahwa nama tasawuf sudah dikenal pada awal abad kedua adalah anjuran para imam pendiri Madzhab untuk memadukan antara fiqih dan tasawuf dalam menjalankan syari’at Islam. Imam Abu Hanifah pada masa beliau yang terlahir (80-150 H) belum mengenal istilah tasawuf, namun ajarannya sudah beliau dapatkan dari Imam Ja’far shadiq. Beliau berkata: Jika dua tahun ini tidak ada, tentu aku celaka". Perkataan ini diucapkan sebelum beliau meninggal dunia, sebagaimana dinuqil oleh Imam Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata,
“Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. (Bihar Al-Anwar, juz.2 hlm. 287, Al-Ihtijaj, juz 2 hal.360).
Adapun pada masa Imam Malik (93-197 H), istilah tasawuf telah dikenal, sehingga ketika beliau telah lama belajar ilmu tasawuf dari imam Ja’far Shadiq, beliau berkata:
“Barang siapa berfiqih tanpa bertasawuf maka ia fasiq, barang siapa yang bertasawuf namun tidak berfiqih maka ia telah zindiq dan barang siapa yang menghimpun keduanya maka ia meraih kebenaran yang hakiki”. (Hasyiah Al-‘alamah Ali Al-‘Adawiy ‘ala Syarhi Al-Imam Az-Zarqaniy fi Al-Fiqh Al-Malikiy: 3/95).
Beliau juga berkata: “Barang siapa yang tida memilik syaikh (mursyid) maka Syaithanlah syaikhnya”. Demikian pula imam Asl-Syafi’iy, senada dengan imam Malik menasehati umat supaya mengintegrasikan fiqih dan tasawuf, beliau berakata:
“Berusahalah engkau menjadi seorang yg mempelajari ilmu fiqih & juga menjalani tasawwuf, & janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yag hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawwuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan taqwa. Sedangkan orang yg hanya menjalani tasawwuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik”. (Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47).
Begitu pula imam Ahmad bin Hambal (164-241 H), berwasiat kepada anak-anaknya untuk senatiasa menghadiri majlis ilmu dan zikir wali Mursyid pada masanya. Beliau berkata:
“Wahai anakku engkau mesti berhimpun dengan kaum ini (shufiyah) karena mereka akan menambahkan kita ilmu yang banyak, muraqabah, khasyah (takut kepada Allah), zuhud, dan cita-cita yang tinggi (wajhullah)” (Tanwirul Qulub, Syaikh Amin Al-Kurdi, hlm. 405).
Bahkan Ibnu Taimiyyah (661-728 H) pengikut Madzhab Hambali, salah seorang ulama yang dikenal keras menentang tasawuf pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf :
Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dan lain-lain
Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128. Ibnu Taimiyyah berkata,
Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.



([1][19]) أخرجه البخاري (26) ومسلم (93)، وأبو داود (4695) والترمذي (2610) والنسائي (5005)، وابن ماجه (63)، وأحمد (1/28)، وابن حبان (168)، وابن خزيمة (2504)، والبغوي (22)، والطيالسي ص (21)، وابن أبي شيبة (11/24 و 45).
[2] Karena istilah thriqah ada pada ayat Al-Qur`an (QS. Thaha: 77, Al-Nisa: 168, Jin: 11, 16, dan Al-Mukmin: 17). 
([3][20]) الانتصار لطريق الصوفية للمحدث محمد صديق الغماري ص 6 .
([4][21]) مقدمة ابن خلدون ، علم التصوف ص (329).
[5] Ini dikenal dengan riyadlah sebagai makasib seorang murid dan kesungguhan mereka melakukan takhalli dan tahalli. Apabila kualitas nafsu murid sudah mencapai level muthmainnah, maka murid akan diizinkan untuk berbaur kembali dalam rangka mu’amalah dan dakwah. Riyadlah meski dalam bimbingan mursyid hakiki dan seorang murid tidak berarti selamanya khalwat namun itu semua hanya upaya riyadlah (latihan ruhaniah) supaya ketika murid kembali berbaur dan bermasyarakat akan terjaga dari tipu daya dunia dan kejahatan nafsunya.

Selasa, 30 Desember 2014

3 hal yang menyebabkan kita tidak bisa merasakan kenikmatan dibalik agama Alloh SWT

1. wanita
wanita adalah makhluk alloh yang diciptakan untuk melengkapi hidup seorang lelaki agar terbentuk suatu rasa ketentraman dan kelengkapan dalam hidup laki-laki tersebut. akan tetapi, selain sebagai nikmat dan karunia dari alloh swt wanita juga diciptakan sebagai ujian bagi para laki-laki. dicontohkan pada kisah nabi adam as yang diturunkan dari surga ke dunia oleh alloh swt karena tergoda oleh siti hawa untuk memakan buah huldi. padahal pohon dari buah huldi sangat dilarang didekati apalagi dimakan oleh alloh swt kpd nabi adam as dan siti hawa. akan tetapi siti hawa tergoda oleh iblis yang sangat benci kepada nabi adam as kemudian siti hawa menggoda nabi adam as untuk memakan buah huldi sampai akhirnya nabi adam pun tergoda dan memakan buah huldi tersebut.
dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lelaki itu bisa tergoda oleh para wanita.
2. kehidupan dunia
kehidupan dunia yang dijadikan tujuan, akan membuat hati manusia menjadi gelap dan keras atau bahkan bisa mati dikarenakan kehidupan manusia dapat membuat lupa akan akhirat.
dengan demikian, kita harus bisa menjaga hati dengan banyak mengingat alloh swt, jangan sampai kita lalai dalam mengingat alloh swt. amiin..
3. hawa nafsu
hawa nafsu manusia harus bisa dikendalikan bahkan harus bisa dilawan. hawa nafsu yang diciptakan oleh alloh swt bertujuan untuk menguji keimanan manusia.



by: sandi muhammad jalaluddin